Gamelan “Basic Life Support” di HUT Ke-5 KREKI di Semarang

IMG-20231211-WA0011

WWW.INDONESIACERDASNEWS.COM | SEMARANG – Sambil memukul gamelan saron slendro , Agung menganalogikan memukul gamelan dengan melakukan Bantuan Hidup Dasar atau Basic Life Support.

“Seseorang yang memukul gamelan agar gamelannya berbunyi dengan baik tentu perlu paham bagaimana cara memukul gamelan, seberapa kuatnya, berapa frekuensi pukulanannya, juga keteraturan memukulnya, dan dimana gamelan harus diletakkan saat memukul, di tempat datar yang keras atau di tempat yang lunak dan labil.
Demikian juga apabila seseorang yang melakukan Bantuan Hidup Dasar perlu mengetahui lokasi tempat pijat jantung, berapa senti kedalaman pemijatannya, berapa kali pijatan dilakukan, berapa frekuensinya dan sebagainya. Dan, penolong perlu mengetahui di mana korban yang henti jantung itu harus diletakkan, yakni di tempat yang aman bagi korban, aman bagi penolong dan aman bagi lingkungan,” kata Agung Sudarmanto saat memaparkan teori Bantuan Hidup Dasar dalam acara yang bertepatan HUT Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI) Provinsi Jawa Tengah.

Acara yang diadakan di Gedung Kesenian dan Cagar Budaya Sobokartti Semarang, pada 9 Desember 2023 itu dihadiri segenap pengurus Perkumpulan Seni Budaya Sobokartti dan Pengurus KREKI Provinsi Jawa Tengah. Peserta pelatihan datang dari berbagai kalangan, baik dari mahasiswa, dalang, penabuh gamelan, para sinden serta masyarakat umum yang berminat mengikuti pelatihan. Pelatih Bantuan Hidup Dasar selain dr. Agung Sudarmanto, MM juga dr. Mulyo Prasedyo, MH dari KREKI Jawa Tengah.

RT Soetrisno Budoyo Dipuro selaku Ketua Perkumpulan Seni Budaya Sobokartti dalam sambutannya menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh KREKi.
“Mudah – mudahan pelatihan yang sangat bermanfaat ini dapat dilakukan para peserta pelatihan apabila menjumpai orang yang mengalami henti jantung,” Kata Mbak Trisno Sobokartti , panggilan akrab RT Soetrisno Budoyo Dipuro.

“Bantuan Hidup Dasar adalah tindakan untuk menyelamatkan korban yang mengalami henti jantung. Tindakan penyelamatan ini harus dilakukan sesegera mungkin karena ketelambatan penanganan akan berpengaruh pada hasil tindakannya. Keterlambatan 10 menit saja angka kebehasilan tindakan tinggal 1 %.” kata Agung.

Sementara dr Mulyo Prasedyo, MH yang dikenal juga sebagai Ketua PDUI Pati itu memberikan arahan praktik Bantuan Hidup Dasar yang benar. “Semua peserta harus mencoba melakukan Bantuan Hidup Dasar dengan benar, karena selepas pelatihan ini bagi yang sudah mampu melakukan BHD akan mendapat sertipikat dan sekaligus sudah terdaftar sebagai Relawan Emergensi Kesehatan,” kata Mulyo yang juga anggota MKEK IDI Wilayah Jateng.

Selain memberikan pelatihan praktik, dr. Mulyo juga memberikan materi tentang kegawatdaruratan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari – hari berikut penanganannya yang dapat dilakukan oleh masyarakat awam, seperti mimisan, tersedak, perdarahan di kepala, teriris pisau . [Red]

Berita Terkait